PEMBAHASAN

Pertama. Dalam sebuah koperasi, modal mempunyai peranan yang sangat

penting untuk mencapai tujuan koperasi, yakni untuk mendapatkan laba yang akhirnya

untuk mensejahterakan anggotanya. Sumber modal koperasi mula-mula diperoleh dari

simpanan pokok, simpanan wajib, donasi dari pihak lain dan penyisihan Sisa Hasil

Usaha yang berupa cadangan. Dalam perkembangan koperasi tergantung dari keaktifan

anggota dalam menggunakan jasa-jasa koperasi. Sebab adanya transaksi baik berupa

pembelian barang dan jasa pada unit pertokoan, pembelian jasa-jasa lain yang ada di

koperasi, serta penggunaan jasa kredit (simpan pinjam) maka akan mengakibatkan

koperasi mendapat pendapatan/penghasilan, dimana sebagian dari pendapatan itu

digunakan untuk pemupukan modal kerja yang digunakan untuk membiayai operasional

koperasi sehari-hari seperti untuk belanja barang, membayar pegawai, membayar

rekening listrik dan sebagainya atau bisa dikatakan modal kerja dalam koperasi

digunakan untuk membiayai kegiatan operasional koperasi sehari-hari dalam jangka

pendek. Semakin tinggi partisipasi anggota pada koperasi maka koperasi akan

memperoleh sumber modal yang besar, modal kerja yang besar, dan pendapatan

koperasi semakin meningkat sehingga akhirnya Sisa Hasil Usaha atau Laba Koperasi

akan bertambah pula.

Kedua. Berdasarkan tabel 1 terlihat bahwa perkembangan Partisipasi Anggota koperasi

yang berjumlah 1140 orang pada tahun 1999 diperoleh dana Rp 211.959.979,-

(100%) kemudian pada tahun 2000 ada kenaikan partisipasi anggota sebesar Rp

_________              ____________________________        __ ___

60.373.917,- (128,48%) menjadi Rp 272.333.896,-. Tahun 2001 terdapat kenaikan

partisipasi Rp 32.293.755,- (143,7%) menjadi Rp 304.627.651,-. Tahun 2002 terdapat

kenaikan partisipasi sebesar Rp 28.591.851,- (157,2%) menjadi Rp 333.219.502,-.

Selanjutnya tahun 2003 terdapat kenaikan partisipasi sebesar Rp 42.595.377,-

(177,30%) menjadi Rp 375.814.879,-. Kenaikan disebabkan naiknya simpanan sukarela,

kenaikan pembelian barang dan jasa serta kenaikan simpan pinjam oleh anggota.

Perlu diketahui berdasarkan catatan yang terdapat pada buku laporan pengurus

ternyata untuk partisipasi anggota dalam penyimpanan, pembelian dan partisipasi kredit

(peminjaman) semua anggota lancar dalam pembayarannya.

Ketiga. Berdasarkan tabel 3 terlihat bahwa perkembangan Sisa Hasil Usaha (SHU)

dari tahun ke tahun ada peningkatan namun ada pula penurunan, kemudian ada

peningkatan kembali. Pada tahun 1999 SHU yang diperoleh adalah sebesar

Rp 5.540.039,- (100%). Pada tahun 2000 ada kenaikan SHU sebesar Rp 935.331,-

(116,9%) menjadi Rp 6.475.370,-. Pada tahun 2001 ada kenaikan SHU sebesar Rp

9.561.995 (789,48%) menjadi Rp 16.037.325,-. Pada tahun 2002 ada kenaikan SHU

sebesar Rp 30.182.277,- (834,28%) menjadi Rp 46.219.602,-. Pada tahun 2003 ada

kenaikan SHU sebesar Rp 25.650.842 9 (1297,29%) menjadi Rp 71.870.444,-.

Keempat. Kemudian kedua data tersebut dicari korelasinya dengan menggunakan

statistik Korelasi Product Moment, sebagaimana tercantum dalam tabel 5 dan hasil

perhitungan diperoleh koefisien korelasi (r) = 0,897 dengan interpretasi “tinggi”. Ini

berarti hubungan partisipasi anggota terhadap sisa hasil usaha adalah positif namun

kategori “tinggi”. Kategori “tinggi” disini disebabkan oleh semakin meningkatnya

partisipasi anggota dari tahun 1999 hingga 2003. Dengan demikian meningkatnya

kenaikan partisipasi anggota diimbagi pula dengan kenaikan sisa hasil usaha (SHU).

Adanya partisipasi anggota pada koperasi merupakan sumbangan terhadap

pembentukan modal kerja dalam penelitian ini adalah modal kerja yang terdapat dalam

aktiva lancar yang belum dikurangi dengan kewajiban, biasa disebut dengan modal

lancar kotor yaitu keseluruhan nilai aktiva lancar. Dimana modal kerja ini diputar secara

terus menerus dalam rangka operasional perusahaan koperasi.

Dengan modal kerja yang telah digunakan sebaik-baiknya membuat koperasi

semakin lama semakin berkembang/meningkat. Hal ini dapat dilihat dengan adanya

persediaan barang yang cukup untuk melayani konsumen (anggota dan masyarakat

sekitarnya), kemampuan koperasi dalam memberi pinjaman yang tinggi kepada para

anggota, dan koperasi terhindar dari krisis modal kerja karena turunnya nilai dan aktiva

lancar.

Selanjutnya melalui uji hipotesis menggunkan uji F dimana diperoleh F hitung

(12,38) > F tabel (9,55), maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti ada pengaruh

yang signifikan antara variabel X dengan Y, dengan demikian hipotesis yang penulis

ajukan dinyatakan terbukti. Jadi dari hasil penelitian ini terlihat bahwa modal kerja telah

digunakan untuk operasional koperasi seperti membayar upah pegawai, pembelian

barang-barang, dan untuk biaya keperluan sehari-hari. Sisa Hasil Usaha yang semakin

meningkat hal ini disebabkan modal kerja kuantitatif telah digunakan untuk operasional

koperasi, dan koperasi mengalami kemajuan sehingga modal kerja kuantitatif meningkat

maka laba/Sisa Hasil Usaha juga meningkat.

Kelima. Berdasarkan data yang penulis terima dari koperasi itu ternyata bahwa

SHU telah dibagi berdasarkan prosentase yang telah disepakati oleh anggota dalam

rapat anggota yakni sebesar 40% untuk cadangan, 40% SHU untuk anggota, 5% untuk

dana pengurus, 5% untuk dana karyawan, 5% untuk pendidikan, 2,5% untuk keperluan

dana sosial dan 2,5% untuk dana pembangunan.

Besarnya sumbangan partisipasi anggota terhadap perolehan Sisa Hasil Usaha

adalah r2 = 0,805 (80,5%), sedangkan sisanya 19,5% adalah sumbangan Partisipasi

dari non anggota (masyarakat sekitar) sebagaimana tercantum dalam tabel 2.

Pendapatan koperasi tidak lepas pula dari peranan non anggota koperasi dalam

hal ini masyarakat sekitar koperasi yang melakukan transaksi pada koperasi Tanjung

Tambun, hanya sayangnya dalam laporan Sisa Hasil Usaha tidak

dijelaskan pendapatan koperasi non anggota.

Akhirnya tujuan koperasi yang mulia yaitu untuk mensejahterakan para

anggotanya, dapat tercapai. Hal ini dapat dilihat indikatornya dari adanya Sisa Hasil

Usaha dengan prosentase sebanyak 40% dari besaran SHU dibagikan kepada anggota

sesuai Undang-Undang Koperasi seyogyanya SHU dibagikan kepada anggota

berdasarkan besar kecilnya partisipasi anggota dalam melaksanakan transaksi di

koperasi. Namun dalam praktiknya SHU tersebut dibagi rata, tanpa mempedulikan besar

kecilnya jasa anggota.