BAB II

LANDASAN TEORI

 

 

2.1  TEORI DASAR

 

  • Definisi Koperasi

Pendapat mengenai definisi koperasi sebagaimana dikutip dalam situs

rullyindrawan.tripod.com dikemukakan Hanel oleh para pendukung pendekatan

esensialis, institusional, maupun nominalis. Sementara Abrahamsen menjelaskan

pendekatan esensialis, memandang koperasi atas dasar suatu daftar prinsip yang

membedakan koperasi dengan organisasi lainnya. Prinsip-prinsip ini di satu pihak

memuat sejumlah nilai, norma, serta tujuan nyata yang tidak harus sama ditemukan

pada semua koperasi. Dari pendekatan esensialis ini, International Cooperative Alliance

(ICA) dalam kutipan rullyindrawantripod.com (2003) telah merumuskan pengertian

koperasi atas dasar enam prinsip pokok, antara lain:

1. Voluntary membership without restrictions as to race, political views

and religious beliefs;

2. Democratic Control;

3. Limited interest or no interest on shares of stock; Earnings to belong

to members, and method of distribution to be decided by them;

4. Education of members, advisors, employees, and the public at large;

5. Cooperation among cooperatives on local, national, and international

levels.

Pendekatan institusional, dalam mendefinisikan koperasi berangkat dari kriteria

formal (legal). Menurut pendekatan ini: “Semua organisasi disebut koperasi jika secara

hukum dinyatakan sebagai koperasi, jika dapat diawasi secara teratur dan jika dapat

mengikuti prinsip-prinsip koperasi”.

Pendekatan nominalis, dengan pelopornya para ahli ekonomi koperasi dari

Universitas Philipps-Marburg, merumuskan pengertian koperasi atas dasar sifat khusus

dari struktur dasar tipe sosial-ekonominya. Menurut pendekatan nominalis, koperasi

dipandang sebagai organisasi yang memiliki empat unsur utama, yaitu:

1. Individual are united in a group by-at least one common interest or

goal (COOPERATIVE GROUP);

2. The individual members of the cooperative group intend to pursue throught

joint actions and mutual support, among other, the goal of improving

their economic and social situation (SELF-HELP OF THE COOPERATIVE

GROUP);

3. The use as an instrument for that purpose a jointly owned and maintained

enterprise (COOPERATIVE ENTERPRISE);

4. The cooperative enterprise is charged with the perfomance of the (formal)

goal or task to promote the members of the cooperative group through

offering them directly such goods and services, which the members

need for their individual economics – i.e. their household (CHARGE OR

PRINCIPLE OF MEMBER PROMOTION).

 

 

Jadi koperasi itu merupakan bentuk kerjasama orang-seorang atau badan yang

bersamaan kepentingan, dan bukanlah kumpulan modal yang bertujuan memajukan

kesejahteraan material anggotanya dengan memberi pelayanan kepada anggota seadiladilnya.

Pengelolaan koperasi dilakukan secara terbuka yang senantiasa mengalami

koordinasi antara koperasi satu dengan koperasi lainnya, jadi tidak ada persaingan

dalam koperasi.

 

 

 

 

 

  • Parisipasi Anggota

 

Kata partisipasi diserap dari bahasa Inggris participation yang artinya

mengikutsertakan pihak lain. Seorang pemimpin dalam melaksanakan fungsinya akan

berhasil jika mengikutsertakan partisipasi semua komponen dan unsur yang ada dalam

organisasi.

Demikian pula untuk koperasi, koperasi akan berfungsi dengan baik dan

berhasil jika mengikut sertakan partisipasi anggota, tanpa adanya partisipasi anggota

mustahil koperasi dapat berhasil dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Sagimun

MD (1965:17) :

Koperasi adalah suatu alat untuk memperbaiki kehidupan berdasarkan

tolong menolong diri sendiri dan auto activitieit dalam bentuk kerja sama.

Hal ini menunjukkan koperasi itu diperlukan partisipasi anggota itu sendiri,

artinya anggota itu berpartisipasi untuk anggota itu sendiri.

Dari pendapat tersebut bahwa koperasi hanyalah suatu alat untuk mencapai

tujuan bersama, alat tersebut dapat berjalan bila orang-orang bisa bekerjasama.

Dengan demikian yang bisa menghidupkan sarana untuk memperbaiki kehdupan yang

berdasar atas kegotong royongan atau kekeluargaan tidak lain adalah partisipasi

anggota.

Jadi koperasi itu merupakan bentuk kerjasama orang-seorang atau badan yang

bersamaan kepentingan, dan bukanlah kumpulan modal yang bertujuan memajukan

kesejahteraan material anggotanya dengan memberi pelayanan kepada anggota seadiladilnya.

Pengelolaan koperasi dilakukan secara terbuka yang senantiasa mengalami

koordinasi antara koperasi satu dengan koperasi lainnya, jadi tidak ada persaingan

dalam koperasi.

Dari penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa koperasi memiliki ciri-ciri

yang khas sebagai sebuah organisasi. Koperasi lahir dengan memiliki tiga unsur pokok

yakni, (a) kerjasama dua orang atau lebih, (b) tujuan yang akan dicapai, (c) kegiatan

yang dikoordinir secara sadar.

 

 

    • Sisa Hasil Usaha

       

      Koperasi yang telah berjalan dengan baik dimana mampu memupuk modal dan

      mampu menutupi kerugian maka koperasi telah mampu menghasilkan laba atau disebut

      dengan SHU (Sisa Hasil Usaha). Sisa Hasil Usaha penting diketahui oleh anggota

      karena SHU bagian anggota ditentukan secara proporsional berdasarkan besarnya

      transaksi dan kontribusi modal anggota, disamping itu SHU juga dapat digunakan untuk

      memperkuat struktur modal. Dalam neraca disebutkan dana cadangan (modal

      bersama). Bisanya, dana cadangan ini disisihkan dari SHU yang dipakai untuk

      memperkuat modal koperasi.

      Pengertian Sisa Hasil Usaha (SHU) menurut UU RI No. 25 tahun 1992 tentang

      Perkoperasian menyatakan : SHU koperasi merupakan pendapatan koperasi yang

      diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya penyusutan, dan kewajiban

      lainya termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.

      SHU bagian anggota adalah uang yang akan diperoleh kembali oleh anggota

      setelah dikurangi dana cadangan dibagikan kepada anggota sebanding dengan jasa

      usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan koperasi, serta digunakan

      untuk keperluan pendidikan perkoperasian dan keperluan lain dari koperasi sesuai

      dengan keputusan Rapat Anggota.

      Menurut Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992 bab IX pasal 45 memberi aturan

      tentang Sisa Hasil Usaha sebagai berikut:

      1) Sisa Hasil Usaha Koperasi merupakan pendapatan Koperasi yang diperoleh

      dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban

      lainnya termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.

      2) Sisa Hasil Usaha setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada

      anggota sebanding dengan jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing

      anggota dengan Koperasi, serta digunakan untuk keperluan pendidikan,

      perkoperasian dan keperluan lain dari Koperasi, sesuai dengan keputusan

      Rapat Anggota.

      3) Besarnya pemupukan dana cadangan ditetapkan dalam Rapat Anggota.

      Jadi dari penjelasan tersebut Sisa Hasil Usaha adalah pendapatan koperasi

      yang dikurangi biaya, penyusutan, dan kewajiban yang diperoleh dalam satu tahun

      buku.

      Transaksi sangat erat kaitannya dengan SHU, karena SHU dihitung secara

      proporsional berdasarkan jumlah transaksi dan partisipasi modal. artinya, semakin besar

      transaksi, maka semakin besar pula peluang seorang anggota untuk mendapatkan

      SHU. Hal ini terjadi jika transaksi anggota tercatat dengan baik dan benar.

      Menurut Lapenkop (2002:5-7) yang dimaksud dengan transaksi adalah kegiatan

      ekonomi dalam bentuk jual beli barang atau jasa. Transaksi di koperasi merupakan

      pemanfaatan pelayanan oleh anggotannya, tetapi tidak hanya terbatas pada

      pemindahan barang atau jasa, juga ada fungsi kontrol di dalamnya. Hal ini terjadi,

      karena status anggota tidak hanya sebagai pamilik, tetapi pengguna pelayanan koperasi

      juga. Sementara itu yang dimaksud dengan partisipasi modal adalah kontribusi anngota

      dalam memodali koperasinya. Ini akibat dari peran anggota sebagai pemilik koperasi.

      Bentuk partisipasi modal adalah simpanan pokok dan simpanan wajib. Simpanan pokok

      dibayarkan hanya sekali selama menjadi anggota, simpanan wajib dibayarkan secara

      periodik. Bisa per bulan atau per tahun, tergantung AD dan ART koperasi yang

      bersangkutan.

      SHU dibagi berdasarkan Anggaran Dasar Koperasi yang akan diadakan

      pembagian yang adil berdasarkan kesepakatan rapat anggota. Misalnya untuk Koperasi

      Tanjung Tambun prosentase pembagian SHU dibagi dana-dana : 40%

      untuk cadangan, 40% untuk untuk jasa anggota, 5% untuk dana pengurus, 5% untuk

      dana karyawan, 5% untuk dana pendidikan, 2,5% untuk dana sosial dan 2,5% untuk

      dana pembangunan.

      Menurur Lapenkop (2002:6) menyatakan SHU yang dibagikan kepada anggota

      berasal dari transaki dengan anggota. SHU yang berasal dari transaksi bukan anggota

      boleh tidak dibagikan kepada anggota. Ini bisa dijadikan modal bersama untuk

      memperkuat struktur modal koperasi. Ketentuan mengenai ini dapat diputuskan dari

      Rapat Anggota.

      Adapun cara menghitung SHU bagian anggota, berdasarkan pedoman dari

      Lapenkop (2002:13-18) dijelaskan sebagai berikut:

      Perhitungan SHU bagian anggota dapat dilakukan bila beberapa informasi

      di bawah ini diketahui:

      1. Total SHU koperasi

      2. Persentase (%) SHU bagian anggota

      3. Persentase (%) SHU bagian partisipasi modal

      4. Persentase (%) SHU bagian transaksi

      5. Modal (simpanan pokok dan wajib) anggota yang bersangkutan

      6. Jumlah modal (simpanan pokok dan wajib) semua anggota

      7. Transaksi anggota yang bersangkutan

      8. Jumlah transaksi semua anggota

       

       

       

       

      2.2  HIPOTESIS

      Berdasarkan atas landasan teoretis maka hipotesis penelitian adalah : “Terdapat

      pengaruh yang signifikan antara partisipasi anggota dengan sisa hasil usaha Koperasi

      Tanjung Tambun”.