JURNAL 3

Tema              : Pengaruh Partisipasi Aggota Koperasi

Masalah          : Adakah pengaruh partisipasi anggota,kualitas pengelola,kualitas pegurus,      dan perananpemerintah terhadap keberhasilan usaha koperasi.(Kasus KUD di Kabupaten Bulengleng Bali)

Judul              : Pengaruh Partisipasi Anggota, Kualitas Pegelola, Kualitas Pengurus, dan Peranan Pemerintah Terhadap Keberhasilan Usaha Koperasi. (Kasus KUD di Kabupaten Bulengleng Bali)

Pengarang      : Ketut Rantau

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Unud

Tahun             : 2005

Latar belakang

Sebelum koperasi diperkenalkan ke dalam masyarakat Indonesia, sudah

ada bentuk kerjasama baik dalam kehidupan keluarga, maupun dalam

lingkungan masyarakat, seperti Mapalus di daerah Minahasa (Sulawesi

Utara), yaitu kerjasama merambah hutan untuk membuka ladang. Mabble

dan Massosok di kalangan orang-orang Bugis (Sulawesi Selatan). Mabbele

yang artinya kerjasama merambah dan membersihkan hutan belukar untuk

dijadikan kebun/ladang, sedangkan Massosok artinya kerjasama mengejar

untuk menangkap atau membinasakan binatang. Di Jawa kita kenal gugur

gunung, bersih desa dan sebagainya. Sedangkan di Bali dikenal dengan

Subak. Sesuai dengan sifat dan karakteristik masyarakat yang

demikian itu, diharapkan koperasi dapat berkembang. Lebih-lebih dalam

Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 telah ditegaskan bahwa :

“Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas

kekeluargaan”, selanjutnya di dalam penjelasan pasal itu dinyatakan bahwa

bangun usaha yang sesuai dengan asas kekeluargaan adalah koperasi

(Departemen Koperasi, 1984). Pelaksana kegiatan ekonomi

yang lain adalah Badan Usaha Milik Negara serta Badan Usaha Milik

Swasta. Kedua pelaksana kegiatan ekonomi itu telah banyak memberikan

sumbangan yang cukup besar terhadap Produksi Domestik Bruto (PDB)

Indonesia. Sedangkan peran serta koperasi dalam kegiatan ekonomi di

Indonesia masih sangat terbatas. Pada tahun 1986 sumbangan koperasi baru

diperkirakan sekitar 5 persen, sisanya disumbang oleh kegiatan swasta dan

pemerintah. Walaupun sumbangan koperasi relatif kecil, namun karena fungsi koperasi yang strategis, maka berbagai permasalahan serta kelemahan yang

dapat menghambat perkembangan koperasi di Indonesia perlu

mendapatkan perhatian dalam penelitian dan dicarikan jalan

pemecahannya. Koperasi pada umumnya dihadapkan pada berbagai kendala,

yang dapat berasal dari dalam koperasi itu sendiri (internal) dari luar koperasi

(eksternal). Kendala internal antara lain : kurangnya partisipasi anggota

dalam koperasi. Partisipasi merupakan kebutuhan dasar bagi usaha koperasi, karena maju

mundurnya suatu koperasi sangat tergantung pada partisipasi anggota

dalam berbagai aspek, seperti pendidikan dan penyuluhan,

pertemuan, pembentukan modal, pengembangan usaha dan komunikasi

pembuatan program (wirasasmita, 1991).

Di samping kendala internal, koperasi juga dihadapkan pada kendala

eksternal. Menurut Harsono (1985) iklim dan lingkungan usaha yang

kurang serasi bagi sistem koperasi pada dasarnya merupakan hambatan utama

dalam pengembangan koperasi. Persaingan dan ancaman dari usaha

bukan koperasi merupakan unsur lingkungan yang merugikan

perkembangan koperasi. Kendala yang lain adalah masalah peranan

pemerintah. Ketergantungan koperasi yang berlebihan pada pemerintah

menimbulkan kendala bagi kemandirian koperasi tersebut bahkan

ada tendensi untuk melemahkan dari pada menguatkan koperasi, karena

tidak mendidik koperasi untuk mandiri, melainkan justru menimbulkan

ketergantungan koperasi kepada pemerintah sehingga hal tersebut dapat

menimbulkan, kesan pada masyarakat seolah-olah koperasi itu adalah

lembaga pemerintah. Dalam buku Evaluasi Pelita V

Daerah Tingkat II Buleleng Bali (1989- 1993) dinyatakan bahwa hambatan atau

permasalahan yang timbul dalam pengembangan koperasi berkaitan

dengan 4 hal sebagai berikut :

  1. Kualitas pengelola. Kurangnya kualitas/kemampuan para pengelola

koperasi hingga peluang-peluang usaha sebagai penunjang kemajuan

koperasi tidak dapat dimanfaatkan dengan baik.

  1. Partisipasi anggota. Kurangnya dukungan para anggota dan

masyarakat terhadap perkembangan koperasi tercermin dari rendahnya

prakarsa dan keikutsertaannya dalam setiap aktivitas koperasi.

  1. Permodalan sendiri. Lemahnya permodalan koperasi terutama

modal sendiri hingga koperasi menjadi kurang mampu meraih

pangsa pasar.

  1. Pengawasan. Pengawas sebagai salah satu perangkat organisasi

koperasi/KUD tugasnya bertanggung  jawab melakukan pengawasan

dan pemeriksaan terhadap jalannya usaha serta organisasi belum dapat

berfungsi sebagai mestinya. Di Kabupaten Buleleng terdapat

14 KUD yang termasuk klasifikasi A. Diantaranya 1 KUD yaitu KUD

Dwiguna tidak aktif sejak tahun 1990, ini berarti 99% KUD di Kabupaten

Buleleng dinyatakan sebagai KUD mandiri. Secara umum keadaan KUD di

Kabupaten Buleleng Bali mengalami perkembangan dari tahun ke tahun baik

jumlah anggota, maupun besarnya ekonomi (sisa hasil usaha, volume

usaha, simpanan anggota, jumlah asset dan cadangan). Bertitik tolak dari uraian di atas,

timbul suatu pertanyaan sejauhmana keberhasilan itu disebabkan oleh :

partisipasi anggota, kualitas pengurus, kualitas pengelola dan peranan

pemerintah.

 

Tujuan

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh partisipasi anggota,kualitaspegelola,kualitas pengurus, dan peranan Pemerintah terhadap keberhasilan usaha koperasi.

METODOLOGI PENELITIAN

 

Sebagai objek dalam penelitian ini adalah Koperasi Unit Desa (KUD).

KUD yang dimaksud adalah KUD Mandiri yang beroperasi dan

berkedudukan di Kabupaten Buleleng Bali. KUD Mandiri tersebut merupakan

KUD serba usaha dengan anggota mayoritas petani. Aktivitas yang

menjadi objek penelitian adalah seluruh kegiatan usaha KUD sebagai gambaran

tingkat keberhasilan usaha KUD. Ukuran sampel dalam penelitian

ini adalah seluruh KUD Mandiri yang ada pada lokasi penelitian. Dari

informasi yang di dapat bahwa jumlah KUD Mandiri di Kabupaten Buleleng,

Propinsi Bali sebanyak 13 (tiga belas) buah dengan jumlah anggota KUD

sebanyak 40040 orang. Jumlah KUD Mandiri itu tersebar pada 9 Kecamatan

yang ada di Buleleng. Mengingat ukuran populasi yang kecil, maka

penelitian ini dilakukan secara sensus. Dengan demikian ukuran sampel dalam

penelitian ini sama dengan ukuran populasi (13 KUD Mandiri). Setelah

KUD sampel diketahui, maka dilakukan pengambilan sampel untuk

pengurus, pengawas, manajer dan karyawan dengan cara purposif.

Jumlah sampel ini diambil sebanyak 8 responden pada setiap KUD sampel.

Masing-masing 3 responden untuk pengurus yakni ketua, sekretaris danbendahara,

2 responden untuk pengawas yaitu ketua dan wakil ketua,

1 responden untuk manajer, dan 2 responden untuk karyawan. Dengan

demikian maka jumlah responden untuk pengurus sebanyak 39, untuk

pengawas 26 responden, untuk manajer 13 responden, dan untuk Karyawan 26

responden. 1. Pengambilan sampel KUD,menggunakan rumus sebagai

berikut:

 

 

 

 

(Z1-α + Z1 – β)2

n = + 3

(Z1)2

Dalam hal ini Z1 = Z1 – Z2

1 (1 + P1)

Zi = Ln

2 (1 – Pi )

i = 1,2 ……n

2. Sampel untuk responden anggota KUD, menggunakan rumus:

Ni

ni = x n

N

Dimana :

ni = Jumlah responden anggota KUD sampel dari KUD ke – i

Ni = Jumlah anggota KUD sampel Pada KUD ke I

N = Jumlah seluruh anggota KUD sampel.

n = Jumlah seluruh respnden dari anggota KUD sampel.

3. Rumus koefisien jalur (path analysis) adalah : (Ching Chun Li 1974).

R2 yXi Xk–R2XI–(XI)–Xk

PyXi = ±

________________________________

1 – R2 xi – xk

i = 1,2 ………… k

Analisis ini dikembangkan antara lain oleh Sewall (1934) dalam harun

Alrasyid 1993, Land (1969), Sudjana (1992) dan Ching chun Li (1975)

dengan tujuan menerangkan akibat langsung dan tidak langsung

seperangkat variabel sebagai variable penyebab (exogenous variabel)

terhadap seperangkat variabel lainnya yang merupakan variabel akibat

(endogenous variabel). Dengan analysis jalur dapat diketahui besarnya

variabel dan dapat digambarkan secara dagramatik struktur variabel-variabel

penyebab dengan variabel-variabel akibat. Untuk mengukur kualitas,

dinyatakan secara ordinal dengan skor, yaitu melakukan transformasi dari

skala ordinal menjadi skala interval agar dapat digunakan analisis jalur.

Metode yang digunakan dalam hal ini methode of succesive interval yang

dikembang-kan oleh Hays (1969)

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pengaruh Partisipasi Anggota (X1) Terhadap KeberhasilanUsaha KUD (Y).

Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa faktor partisipasi

anggota (X1) memiliki pengaruh relative terhadap keberhasilan usaha KUD (Y)

dengan koefisien jalur sebesar = 52,1 persen. Angka ini termasuk kategori

tinggi, tetapi berdasarkan perhitungan secara sederhana diketahui besarnya

pengaruh relatif X1 terhadap Y dengan mengabaikan variabel lainnya

diperoleh hasil sebesar 0,6346 atau 63,46 persen. Sedangkan selebihnya

atau 0,3654 persen dipengaruhi secara relatif oleh faktor lain di luar variabel

ini. Dari perhitungan lain diketahui pula bahwa faktor partisipasi anggota

(X1) memiliki pengaruh nyata terhadap keberhasilan usaha KUD (Y) dengan

koefisien determinasi sebesar = 33,08 persen. Angka ini termasuk kategori

rendah tetapi dalam perhitungan secara sederhana diketahui pengaruh nyata

antara X1 terhadap Y sebesar 40,3 persen (koefisien determinasi = 0,403).

Sedangkan selebihnya koefisien residu sebesar 59,7 persen, dipengaruhi secara

nyata oleh faktor lain di luar variable ini.

2. Pengaruh Kualitas Pengelola (X2) Terhadap Keberhasilan Usaha KUD (Y).

Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa kualitas pengelola

(X2) memiliki pengaruh relatif terhadap keberhasilan usaha KUD (Y) dengan

koefisien jalur sebesar 18,2 persen. Angka ini termasuk kategori rendah

tetapi melalui perhitungan secara sederhana dengan mengabaikan

variabel lainnya besarnya pengaruh relatif X2 terhadap Y diperoleh

koefisien jalur sebesar 57,53 persen. Sedangkan selebihnya atau 42,47

persen dipengaruhi secara relatif oleh faktor lain di luar variabel ini.

Di samping itu kualitas pengelola (X2) memiliki pengaruh nyata terhadap

keberhasilan usaha KUD (Y) yang ditujukan oleh koefisien determinasi

sebesar 10,47 persen. Angka ini termasuk kategori rendah, tetapi

melalui perhitungan secara sederhana diperoleh koefisien determinasi sebesar

33,1 persen (0,331). Selebihnya sebesar 0,669 persen dipengaruhi secara nyata

oleh faktor lain diluar variabel ini.

3. Pengaruh Kualitas Pengurus (X3) Terhadap Keberhasilan  KUD (Y).

Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa faktor kualitas

pengurus (X3) memiliki pengaruh relatif terhadap keberhasilan usaha

KUD (Y) dengan koefisien jalur sebesar 28,1 persen. Angka ini

termasuk kategori rendah, tetapi melalui perhitungan secara sederhana

diperoleh koefisien jalur sebesar 63,07 persen. Selebihnya atau 36,93 persen

dipengaruhi secara relatif oleh factor lain di luar variabel ini. Sedangkan

pengaruh nyata kualitas pengurus (X3) terhadap keberhasilan usaha KUD (Y)

sebesar 17,73 (koefisien determinasi = 0,1773). Angka ini termasuk kategori

rendah, tetapi melalui perhitungan secara sederhana diperoleh koefisien

determinasi sebesar 39,8 persen. Selebihnya 60,2 persen dipengaruhi

secara nyata oleh faktor lain di luar variabel ini.

4. Pengaruh Peranan Pemerintah (X4) Terhadap Keberhasilan Usaha KUD (Y).

Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa peranan pemerintah

(X4) memiliki pengaruh relatif terhadap keberhasilan usaha KUD (Y) dengan

koefisien jalur sebesar 33,2 persen. Angka ini termasuk kategori rendah

tetapi melalui perhitungan secara sederhana diperoleh koefisien jalur

sebesar 49,72, selebihnya atau 48,72 persen dipengaruhi secara relatif oleh

faktor lain di luar variabel ini. Peranan pemerintah (X4) memiliki pengaruh

nyata terhadap keberhasilan usaha KUD (Y) dengan koefisien determinasi

sebesar 16,50 persen. Angka ini termasuk kategori rendah, tetapi

melalui perhitungan secara sederhana diperoleh koefisien determinasi sebesar

24,7 persen selebihnya 75,3 persen dipengaruhi secara nyata oleh faktor

lain di luar variabel ini.

5. Pengaruh Partisipasi Anggota (X1), Kualitas Pengelola (X2),

Kualitas Pengurus (X3), DanPeranan Pemerintah (X4) Secara

Serempak Terhadap Keberhasilan Usaha KUD (Y).

Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa partisipasi anggota (X1),

kualitas pengelola (X2), Kualitas pengurus (X3), dan peranan pemerintah

(X4) secara serempak berpengaruh nyata terhadap keberhasilan usaha

KUD (Y) yang ditunjunkan oleh koefisien determinasi = sebesar 77,78

persen. Angka ini termasuk kategori tinggi, sedangkan selebihnya 22,22

persen dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel ini.

 

 

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa

kesimpulan sebagai berikut :

  1. Faktor partisipasi anggota dengan keberhasilan usaha KUD memiliki

korelasi yang tinggi, baik langsung maupun tidak langsung. Kondisi

tersebut sejalan dengan peranan partisipasi anggota bagi

keberhasilan usaha KUD. Partisipasi aktif anggota akan mem-bantu

lancarnya usaha koperasi.

  1. Faktor kualitas pengelola dengankeberhasilan usaha KUD, baik

secara langsung maupun tidak langsung memiliki korelasi yang

tinggi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat para ahli bahwa tingkat

kualitas pengelola berhubungan positif dengan keberhasilan usaha KUD.

  1. Faktor kualitas pengurus dengan keberhasilan usaha KUD memiliki

korelasi yang tinggi, baik langsung maupun tidak langsung. Kondisi

tersebut sejalan dengan peranan kualitas pengurus bagi keberhasilan

usaha KUD. Kualitas pengurus akan sangat membantu lancarnya

keberhasilan usaha koperasi. Dari hubungan di atas, melalui Path

analysis terbukti bahwa kualitas pengurus memiliki pengaruh

terhadap keberhasilan usaha KUD, meskipun rendah.

  1. Peranan pemerintah dengan keberhasilan usaha KUD memiliki

Korelasi yang rendah. Dari hubungan di atas, melalui Path

analysis terbukti bahwa peranan pimerintah memiliki pengaruh

terhadap keberhasilan usaha KUD, meskipun rendah.

  1. Partisipasi anggota, kualitas pengelola, kualitas pengurus dan

peranan pemerintah secara serempak berpengaruh terhadap keberhasilan

usaha KUD yang tinggi. Hal ini sejalan dengan pengkajian di atas,

maka partisipasi anggota, kualitas pengelola, kualitas pengurus dan

peranan pemerintah memiliki keterkaitan secara teoritis terhadap

keberhasilan usaha KUD. Dengan demikian keberhasilan usaha KUD

turut ditentukan oleh partisipasi anggota, kualitas pengelola, kualitas

pengurus dan peranan pemerintah. keseimbanganusaha dalam mencapai

keberhasilannya.