Tak hanya dilanda cemas, perilaku bermasalah mulai muncul pada remaja kita dengan usia yang lebih muda. Yang menyedihkan, cukup banyak remaja yang menganggap kekerasan itu sebagai hal yang lumrah. Temuan itu merupakan hasil survei awal terhadap remaja di DKI dan sembilan kota besar di Indonesia belum lama ini.

Federasi Kesehatan Mental Indonesia (Fekmi) menemukan remaja mulai mengenal tempat maksiat, perilaku minum minuman keras, merokok, dan narkoba. Ada yang terbaru dan mencemaskan dalam survei ini. ”Ternyata indikasi perilaku remaja bermasalah sudah muncul pada remaja awal,” kata psikolog Drs Psi Doddy Haryadi PhD.

Indikasi perilaku remaja bermasalah sudah muncul pada remaja awal sekitar usia 11-14 tahun. ”Jadi, terjadi percepatan,” kata Doddy dalam ”Seminar Gangguan Emosi dan Perilaku pada Anak dan Remaja” di Jakarta Senin (6/10) lalu. Sayangnya, ia mensinyalir baik sekolah maupun rumah kurang optimal menghadapi masalah ini.

Tak lagi melihat-lihat
Usia remaja awal, menurut Doddy, biasanya baru dalam tahap ”melihat-lihat”. Tapi, kini sudah menunjukkan gejala bermasalah. Dalam kehidupannya, anak-anak itu pun merasa cemas.

Bagaimana kondisi emosional mereka? Sebanyak 47,7 persen remaja sering merasakan perasaan cemas, 84 persen merasakan perasaan cemas yang berulang, 70,3 persen sering berpikir yang tidak-tidak, dan banyak juga yang mengaku sering mimpi buruk.

Kecemasan remaja itu, antara lain takut pergi ke mal karena khawatir bom, takut ke sekolah karena ngeri dipalak teman. Berbagai kecemasan itu, menurut psikolog Tisna Chandra, menyimpan banyak pertanyaan. ”Ada apa dengan keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara ini?” katanya.

Patut dicatat pula, 79 persen remaja mencemaskan penampilan. Ini bisa dipahami karena model rambut dan pakaian cepat berubah. Sementara sang remaja ingin tampil trendi. Tak dipungkiri pula ini banyak pengaruh dari iklan.

Buntut kecemasan yang melanda remaja, Tisna mengungkap, sebanyak 13,1 persen menggunakan obat penenang. Hanya, angka ini tak mengungkap lebih jauh obat penenang yang dimaksudkan.

Secara umum, menurut Ketua Fekmi Prof Dr Makmuri Muchlas PhD SpKJ, kesehatan mental sangat erat hubungannya dengan kemiskinan. Ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi, yang sampai kini belum sembuh, jumlah penduduk miskin melonjak sampai kira-kira 40 juta orang, angka kecemasan (anxiety) dan depresi melonjak juga.

Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam keadaan normal angkanya sekitar 10 persen. ”Tetapi, ketika terjadi krisis ekonomi, estimasi angka kecemasan dan depresi mendekati 30 persen dari jumlah penduduk,” kata Makmuri.

Survei yang berlangsung Juni-Agustus 2003 ini diadakan di 10 kota besar di Indonesia, yaitu di Medan, Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banjarmasin, Denpasar, dan Ujung Pandang. Ini salah satu kegiatan Fekmi menyambut Hari Kesehatan Mental Dunia yang jatuh pada 10 Oktober 2003 yang bertema ”Gangguan Emosi dan Perilaku Pada Anak-anak dan Remaja”.

Tak bisa atasi masalah
Tak hanya pada angka, Prof Dr Ayub Sani Ibrahim SpKj juga merasakan peningkatan kecemasan remaja dari ruang praktiknya. Ia melihat kejadian depresi dan percobaan bunuh diri meningkat drastis selama masa remaja. Mereka sering menyakiti diri sendiri dan percobaan bunuh diri, terlihat gejala depresi, dan terdapat halusinasi.

Saat minta bantuan psikiater, antara lain dalam keadaan kecemasan (anxiety), ingin mati tetapi takut mati, depresi, merasa sepi sendiri di tempat yang ramai, gangguan tingkah laku, dan fobia. ”Sekarang banyak anak fobia sekolah, takut guru galak, ruangan panas, karena takut dipalak teman,” kata Ayub Sani.

Biasanya remaja yang mengalami masalah itu, jelas Tisna, karena ia tak bisa dengan baik melalui proses transisi dari masa anak-anak menuju dewasanya. Tisna mengungkap, transisi remaja merupakan transisi emosi, moralitas, pendidikan seksualitas, dan transisi dalam hubungan dengan keluarga. Hasil survei transisi moralitas menunjukkan, 54 persen remaja mengaku pernah berkelahi, 87 persen berbohong, 8,9 pernah mencoba narkoba, 28 persen merasa kekerasan sebagai hal yang biasa.

Baik Doddy Haryadi maupun Tisna Chandra sama-sama prihatin terhadap sikap remaja yang menghayati kekerasan sebagai hal biasa. Tisna bertanya-tanya tentang kemungkinan sikap itu karena mereka sering melihat banyak tayangan kekerasan berdarah-darah di televisi. ”Dari mana mereka bisa berempati itu yang secara moral tidak boleh dilakukan?” ujar Tisna.

Hasil survei transisi seks, sebanyak 24 persen pernah membaca buku porno dan 31 persen tidak nyaman dengan perubahan fisik yang dialaminya. Secara teoritis, pendidikan seks merupakan tanggung jawab orang tua dan sekolah. Namun, mayoritas remaja belajar dari teman yang dikhawatirkan informasi seksnya tidak benar. ”Apakah kita cukup memberi pengetahuan seks kepada anak kita?” ujarnya.

Ke sekolah dengan ceria
Apa yang bisa dilakukan orang tua? Doddy menyarankan agar orang tua menciptakan situasi agar anak tumbuh berkembang optimal. Begitu pula yang dilakukan pihak sekolah. ”Sehingga anak datang ke sekolah dengan ceria,” katanya.

Tapi, apa kata remaja tentang orang tua mereka? Mayoritas (82 persen) mengatakan orang tua otoriter, 50 persen mengaku pernah mendapatkan hukuman fisik, dan 39 persen mengatakan orang tua pemarah. Apa pun komentar tentang orang tua mereka, sebanyak 72 persen mengaku melanggar larangan orang tua.

Agaknya orang tua harus banyak berbenah diri demi kesehatan mental remajanya. Dari rumah, tambah Tisna, orang tua harus bisa menyediakan kenyamanan bagi anak-anaknya. ”Orang tua dituntut berkorban untuk memberikan kenyamanan itu,” katanya. Selanjutnya, lanjut Tisna, orang tua dan guru penting berpegangan tangan untuk mendidik anak agar mampu menyelesaikan masalahnya. poy

Awalnya dari Nongkrong-nongkrong

Seorang guru dari sebuah SLTP di Jakarta mengeluhkan kecemasannya. Begini. Dua tahun belakangan ia melihat kecenderungan peningkatan anak-anak yang tak betah di rumah. ”Mereka betah di sekolah, tetapi tidak untuk belajar,” katanya dalam Seminar ”Gangguan Emosi dan Perilaku Pada Anak dan Remaja” di Jakarta Senin (6/10).

Psikolog Doddy Haryadi menengarai kecenderungan yang sama. Anak-anak seperti ini biasa ditemui nongkrong di depan sekolah atau di kios rokok dekat sekolah.

Mengapa tempat-tempat itu menjadi favorit? Di area itu, menurut Doddy, terjadi suatu interaksi siswa dengan alumni. Biasanya, interaksi ini ada kaitannya dengan tawuran. Tak cuma alumni. Di tempat itu ada interaksi siswa dengan orang-orang yang usianya lebih dewasa.

Menurut Doddy, banyak perilaku bermasalah remaja, seperti mencoba rokok, bir, dan ¬†narkoba dimulai dari sini. ”Fenomena itu ada dan perlu diwaspadai orang tua dan guru,” katanya.

Untuk itu, psikolog tamatan Universitas Padjadjaran ini berpendapat perlu melihat iklim di rumah dan memperbaiki keadaannya. Ia berpendapat pihak sekolah dan orang tua di rumah harus bahu-membahu menghadapi masalah ini. Dari sekolah perlu dikembangkan pola interaksi siswa. Sekolah harus bisa menstimulasi tidak hanya untuk belajar, tetapi juga membahagiakan anak dalam suasana sekolah.

Doddy mengakui di setiap sekolah biasanya ada sejumlah siswa yang bermasalah. ”Tidak mungkin sebagai guru secara optimal menangani masalah seperti ini,” katanya. ”Perlu kerja sama dengan orang tua.”

Mungkin, perlu diperhatikan pula hasil survei Fekmi berkaitan dengan pendidikan. Sebanyak 47 persen remaja mengaku nakal di sekolah dan tak mempedulikan peraturan sekolah (33 persen).

Gizi.net